[Review Novel] Hector an the Search for Happiness – Francois Lelord

hector_and_the_search_for_happiness

Judul         : Hecor and the Search for Happiness

Judul asli  : Le Voyage g’Hector ou la recherche du bonheur

Penulis     : Francois Lelord

Penerbit   : Noura Books

Tebal        : 263 halaman

Ukuran     : 21 x 13 cm

ISBN         : 978-602-385-002-2

Ada yang berkata bahwa bahagia itu sederhana. Tetapi bagi Hector bahagia tidak sederhana. Ia seorang psikiater dan oleh sebab itu sering berinteraksi dengan berbagai macam manusia. Beberapa di antara mereka adalah manusia-manusia yang merasa tidak bahagia. Hal ini tentu membuat Hector akhirnya bertanya-tanya apa yang membuat manusia bahagia.

Maka hector mulai berkelana untuk mencari makna kebahagiaan.

Pada perjalanan mencari kebahagiaan Hector selalu mencatat hal-hal yang berkaitan dengan kebahagiaan. Catatan itu dinamakan pelajaran. Misalnya:

Pelajaran no.1 : Membuat perbandingan bisa merusak kebahagiaan.

Dan catatan pelajaran itu makin lama makin bertambah seiring petualangan Hector. Hector berkelana ke Tiongkok, Afrika, dan Amerika. Hector sendiri berasal dari paris. Lokasi-lokasi tersebut ada pada negara berbeda, benua yang berbeda, dengan kearifan lokal serta budaya yang jauh berbeda, sehingga menampilkan definisi kebagiaan yang berbeda-beda pula. Hector menggambarkan kebahagian dimulai dari pengalaman empirisnya di berbagai termpat tersebut.

Setelah melewati pengalaman empiris dalam mendifenisikan kebahagiaan, Hector menemui seorang professor yang meneliti kebahagiaan. Ia berpindah dari ranah empiris menuju ranah saintis. Hector akan mengetahui bahwa kebahagiaan berkaitan dengan bagian tertentu pada otak. Saat seseorang bahagia bagian tersebut aktif  dan ditunjukkan dalam warna jingga. Sedangkan ketika bersedih bagian tersebut berwarna biru.

Kalian akan menemukan pelajaran-pelajaran yang menarik dari perjalanan Hector ini. Dan semoga kalian berbahagia setelah membacanya.

[Review Novel] Seribu Tahun Cahaya – Lia Heliana

id_gpu2015mth08stca_b

Judul : Seribu Tahun Cahaya

Penulis : Lia Herlina

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Ukuran : 13,5 x 20 cm

Tebal : 194 halaman

ISBN : 978-602-03-1825-7

 

Kisah ini dimulai ketika Zee, Kapten Chou, Mike, Chaled, Argen, Yosha, berkelana menuju luar angkasa. Mereka dikirim oleh pihak swasta Dimensi One. Ternyata perjalanan mereka tak semulus yang dibayangkan. Selepas beberapa saat dari lepas landas. Sisitem kendali tidak berfungsi, peralatan komunikasi tidak bisa digunakan. Zee dan yang lainnya terdampar pada ruang hampa tanpa pertolongan. Mereka harus menolong diri mereka sendiri agar selamat. Beberapa rahasia terungkap dan membuat konflik di novel ini meningkat. Sementara konflik meningkat, oksigen akan selalu berkurang setiap waktu. Mereka harus menyelamatkan diri sesegera mungkin. Di tengah carut marut itu adanya kapsul mini yang hanya bisa menampung satu penumpang menjadi oase di tengah harapan kosong mereka. Namun itu memunculkan konflik tentang siapa yang pantas yang dapat kembali ke bumi. Ketika kesepakatan tentang siapa yang naik kapsul mini itu terjadi, pembaca diarahkan pada dua alur yang berbeda. Pembaca dapat memilih salah satu. Pilihan itu menghasilkan ending dan konflik yang berbeda pula. Sehingga di dalam novel ini memiliki dua ending yang sama-sama menarik.

Penulis sepertinya menganut paham ductile ut utile, indah dan mendidik. Banyak hal yang berusaha disampaikan penulis mengenai agama(islam khususnya), melalui dialog tokoh utama, atau melalui narasi. Namun kadang hal tersebut terlalu lugas dan seperti berceramah. Beberapa pembaca mungkin cocok dengan gaya bertutur yang seperti itu, tapi saya kurang menyukainya. Saya merasa pesan-pesan bisa disampaikan lewat cerita, bukan lewat kata atau kalimat-kalimat.

Yang sedikit mengganggu ada typo di halaman 96. Di awal disebutkan bahwa mereka melaju ke masa depan ke waktu 130 tahun ke depan. beberapa baris di bawah kalimat tersebut tertulis melaju 30 tahun ke masa depan. Saya merasa bingung, bagian mana yang benar. Sampai pada 135 keraguan itu terjawab. Bahwa yang benar adalah mereka melaju ke 130 tahun ke depan.

Satu lagi. Saya merasa Zee terlalu feminim sebagai panggilan lelaki bagi pemuda Indonesia. Terlebih karakter Zee di novel ini seperti wanita menurut saya, mungkin itu karena penulisnya seorang wanita.

[Download] Lagu – Nike Ardilla MP3

Nike Ardilla – Sandiwara Cinta
Nike Ardilla – Suara Hatiku
Nike Ardilla – Biarlah Aku Mengalah
Nike Ardilla – Tinggallahku Sendiri
Nike Ardilla – Matahariku
Nike Ardilla – Belenggu Cinta
Nike Ardilla – Izinkan
Nike Ardilla – Kuharus Memiliki
Nike Ardilla – Hati Kecil
Nike Ardilla – Panggung Sandiwara
Nike Ardilla – Duri Terlindung
Nike Ardilla – Biarkan Cintamu Berlalu
Nike Ardilla – Khayal
Nike Ardilla – Cinta Kita
Nike Ardilla – Bila Cinta Mulai Bersemi
Nike Ardilla – Duka Pasti Berlalu
Nike Ardilla – Untuk Apalagi
Nike Ardilla – Mama Aku Ingin Pulang

[Revie Novel] Critical Eleven – Ika Natassa

Judul                : Critical Eleven

Penulis            : Ika Natassa

Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

Ukuran            : 13,5 x 20 cm

Tebal              : 344 halaman

ISBN                : 978 – 602 – 03 – 1892 – 9

Seperti pada cerita romence pada umumnya, kau akan menemukan tokoh utama pria bertemu dengan tokoh utama wanita dalam keadaan tidak sengaja. Tetapi Ika Natassa menceritakan kebetulan Tanya Baskoro Bertemu Aldebaran Risjad dengan baik sekali. Mula-mula Tanya Baskoro bernarasi dan menceritakan dirinya yang menyukai bandara dan berlanjut secara mulus dari satu bagian ke bagian lain. Hingga akhirnya Tanya Baskoro bertemu dengan Aldebaran Risjad di dalam pesawat.

Kita tidak akan melihat hubungan mereka akan baik-baik. Diceritakan dengan Alur yang maju mundur sehingga terasa dinamis dan tidak membosankan. Kemudian pada satu titik saat menceritakan masa lalu yang manis hingga menikah dan suasana-suasana membahagiakannya, kisah itu bergerak ke keadan sekarang dimana Tanya Baskoro (Anya) mempunyai masalah dengan Aldebaran Risjad (Ale). Perpindahan bagian cerita ini membuat kita bertanya-tanya apa penyebab mereka bermasalah. Penulis tidak buru-buru menjelaskan kenapa pasangan suami istri tersebut bermasalah. Kita akan bertanya, kenapa keluarga bahagia ini bisa menjadi seperti sekarang. Dan rasa penasaran itu yang kan menuntun kita terus membaca. Hingga akhirnya penulis pun memberi tahu di halaman 72.

Novel ini memuat dua sudut pandang orang pertama. Pertama dari Anya, kedua dari Ale. Semua saling bergantian untuk bernarasi dan bercertia. Cukup sulit menggunakan cara ini. Kita tidak hanya memindahkan kamera satu ke kamera lainnya. Setiap tokoh harus punya suara yang berbeda. Sehingga ketika kita membaca bagian A dengan bagian B kita akan tahu yang mana tokoh A dan tokoh B. Ika Natassa mencoba membuat suara itu berbeda dengan membuat perbedaan dengan kata ganti orang pertama. Anya menyebut dirinya sendiri dengan Aku sedang Ale menyebut dirinya sendiri dengan gue. Anya lebih banyak menggunakan frasa atau kalimat berbahasa inggris dibandingkan Ale. Namun apakah hal tersebut cukup. Saya kira tidak. Karena suara bukan hanya kata ganti dan frasa bahasa inggris saja. Suara seperti ciri khas yang ada pada penulis satu dengan penulis lainnya. Seperti kita bisa membedakan mana yang ditulis oleh penulis B atau A hanya dengan membacanya tulisannya walau tanpa dicantumkan nama penulisnya. Kemudian apakah Ika Natassa berhasil? Saya masih belum begitu yakin.

Namun Ika Natassa mampu menggolak perasaan say saat membacanya. Saya suka endingnya yang jatuh pada garis yang tepat.

[Review Nonfiksi] Peristiwa 1965 : Presepsi dan Sikap Jepang – Aiko Kurasawa

Peristiwa-1965

Judul            : Peristiwa 1965 : Presepsi dan Sikap Jepang

Penulis         : Aiko Kurasawa

Penerbit      : Penrbit Buku Kompas

Ukuran        : 14 x 21 cm

Tebal           : xxii + 202 halaman

ISBN            : 978 – 979 – 709 – 972 – 5

Aiko Kurosawa memperoleh gelar Ph.D dari Universitas Tokyo dengan menulis relasi Indonesia-Jepang pasca perang. Hal tersebut membuktikan bahwa pengetahuan Aiko Kurosawa sebelum G30S sudah teruji secara akademis. Dalam menulis buku ini, Aiko juga telah melakukan riset selama 16 tahun. Ia melakukannya sebagian besar di Indonesia. Mewawancarai beberapa pihak, mengambil sumber dari arsip Kementrian Luar Negeri Jepang (MOFA), US State Departement, dan masih banyak lagi. Sumber yang mendalam dan riset yang dilakukan yang panjang, semoga membuat isi dari buku ini sesuai dengan kenyataannya.

Hubungan Indonesia dengan Jepang sendiri juga begitu erat. Jepang adalah satu-satunya negara yang condong ke barat, tetapi mampu membangun hubungan diplomatik yang baik dengan Indonesia pada masa kepemerintahan presiden Soekarno. Soekarno dan Jepang juga mempunyai hubungan yang erat. Istri ketiga Bunga Karno awalnya berwarganegara Jepang. Setelah menikah dengan Soekarno Naoko Nemoto berganti nama menjadi Ratna Sari Dewi. Pernikahan tersebut memperat hubungan Indonesia dengan Jepang. Dewi memiliki pengaruh yang kuat sebagai jembatan penghubung antara pemerintah Jepang dengan pemerintah Indonesia. Dan karena pengaruhnya yang kuat tersebut, Aiko kurosawa dalam buku ini menuliskan satu baba khusus yang mengupas pendapat pribadi dari Dewi mengenai peristiwa 1965. Sumbernya berupa wawancara (wawancara dilakukan selama 14 kali dalam rentang  2009 – 2011) dan dua buku autobiografi Dewi yang ditulis dalam bahasa Jepang. Sekalipun seperti itu, Aiko Kurosawa mengingatkan untuk bersikap kritis terhadap pendapat dari Dewi. Karena tentu ia berusaha melakukan pembelaan diri. Lagipula Dewi merupakan salah satu orang terdekat Soekarno.

Di dalam buku ini kita mulai diperkenakan peristiwa sebelum G30S. Dimulai dari cerita mengenai dana pampasan perang. Jepang yang kalah dari sekutu harus menanggung beban semua kerugian terhadap negara-negara yang terkena dampak, dan dana tersebutlah yang dinamakan dana pampasan perang.

Di sini kita melihat banyak sikap Jepang yang ambivalen. Memasang wajah ganda demi keuntungan keuntungan tertentu. Contohnya dapat terlihat dari sikap jepang yang dekat ke barat, namun menganggap dirinya sebagai saudara Asia.

Peristiwa G30S hingga Supersemar adalah kemelut yang panjang. Soekarno tidak dapat melihat kelahiran putrinya dari istrinya Dewi. Pergerakan Dewi diapantau oleh pasukan Cakrabirawa. Media-media di Indonesia dan barat kesulitan meliput tentang G30S. Jepang sendiri juga kesulitan, tetapi karena terbit di luar Indonesia, dan wartawan Jepang lebih mudah masuk daripada wartawan barat, maka berita-berita yang ditulis mengenai G30S di jepang lebih detail daripada media-media Indonesia sendiri. Meskipun begitu, berita tersebut tak banyak berpengaruh.

Kejatuhan pemerintahan Soekarno menguntungkan Jepang. Sebelumnya investasi ekonomi sulit dilakukan di Indonesia. Namun semenjak naiknya Soeharto melalui Supersemar, Jepang memperoleh kesempaan ekspansi perekonomian yang besar.

[REVIEW Novel] Go Set A Watchman – Harper Lee

Judul                : Go Set a Watchman

Penulis            : Harper Lee

Alih Bahasa    : Berliani Mantili Nugrahani dan Esti Budihabsari

Penerbit          : Qanita

Ukuran            : 13 x 20,5 cm

Tebal                : 288 halaman

ISBN                : 978- 602- 1637 – 88 – 3

Awalnya saya mengira Novel Harper akan ada satu di dunia ini, yaitu To Kill a Mockingbird. Ternyata setelah jeda lebih dari setengah abad terbit satu novel yang ditulis beliau. Masih konteks yang sama dengan tokoh tokoh yang sama dari To Kill a Mockingbird. Go Set a Watchman masih menampilkan Atticcus serta Jean Louise (Scot). Masih dalam sudut pandang yang sama seperti novel sebelumnya, kisah kisah di novel ini mengambil sudut pandang orang ketiga dengan Jean Loise sebagai pusat. Kita akan mengetahui percakapan batin Jean Louise tapi tak mengetahui percakapan batin tokoh lainnya.

Dalam menulis Review ini saya sedikit banyak akan menghubungkannya dengan To Kill a Mockingbird.

Masih dengan isu yang sama dengan novel sebelumnya, novel ini membahas isu rasial di Amrerika Serikat, Khususnya di wilayah Maycomb. Dalam beberapa hal saya lebih menyukai To Kill a Mockingbird. Dalam beberapa hal juga saya lebih menyukai Go Set a Watchman.

Walau membahas isu yang sama di novel yang baru, ceritanya lebih kompleks. Kita akan mengetahui sisi lain Atticus yang sebelumnya kurang lebih dianggap “dewa”. Kita akan menemui konflik-konflik lain mengenai perbedaan pendapat antara pemisahan ras dan penyamaan kedudukan. Ada adu argumen yang dapat diikuti nantinya.

Sudut pandang Jean Louise ketika dewasa dengan anak kecil tentu berbeda. Saat anak kecil pandangannya lebih ke tengah. Dan melihatnya dari sudut tidak terlalu memihak. Pada Go Set a Watchman, suara dalam novel ini otomatis berubah menjadi sangat condong kapada ketidaksetujuan dengan perbedaan perlakuan berdasarkan ras.

Alur di novel ini lebih rumit. Alurnya maju mundur. Dan ketika mundur, perpidahan setting waktu halus sekali. Ada paragraf paragraf yan menggiringnya memasuki Setting antara sebelum akhirnya benar-benar pindah ke setting waktu lampau.

Selain hal tersebut ada penulisan percakapan yang saya suka. Pada penulisan Dialog cukup panjang dan kurang penting, Harper Lee menulisnya denan memisah kalimat dengan elipsis.

“…kalau kau tak terbiasa, itu mengagetkanmu… oh, dia baik-baik saja.… aku tidak bisa membedakan meminum dan memakannya… kita semua akan masuk neraka, masalahnya hanya kapan… jangan cerewet, Kak, aku belum terbaring mati… kenapa kau tak minum juga?” (halaman 270)

Dengan mengerti konteks dari kalimat kalimat sebelumnya, elipsis tersebut tidak menganggu, dan kita paham mengenainya. Penulisan seperti ini dilakukan Harper Lee beberapa kali.