[REVIEW Novel] Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas – Eka Kurniawan

Judul : Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Penulis      : Eka Kurniawan

Penerbit   : Gramedia Pustaka Utama

Ukuran     : 14 x 21 cm

Tebal         : 243 halaman

ISBN         : 978-602-03-0393-2


 

Ini novel ketiga Eka Kurniawan yang berjarak 10 tahun dari novel terakhirnya (Lelaki Harimau). Novel yang berjarak sangat panjang dari novel trakhir yang tentu ditunggu-tunggu oleh penggemarnya. Dan dihalaman terakhir ducantumkan titimangsa penulisan novel (2011-2014). Waktu yang tak pendek untuk menulis novel dengan jumlah halaman 243. Namun, isinya banyak hal-hal satir di dalamnya.

Cerita berkisah tentang Ajo Kawir yang kemaluannya tak bisa berdiri semenjak ia mengintip seorang wanita gila yang diperkosa oleh polisi. Semenjak itu burungnya tidur panjang dan tak bangun-bangun. Berbagai upaya dilakukan Ajo Kawir bersama sahabatnya Si Tokek agar si burung bisa bangun. Lebih tepatnya Ajo Kawir sendiri berusaha membangunkan si burung. Pelbagai tingkah Ajo Kawir dalam usaha membangunkan si burung tak henti-henti membuat saya tertawa. Lucu dan konyol.

Hingga akhirnya ia menyerah dan tak mempedulikan lagi burungnya yang tidur hingga Ajo Kawir bertemu Iteung dan jatuh cinta ke gadis itu.

Walaupun jatuh cinta ia tak bisa bersama. Tak bisa membahagiakan Iteung. Burung semacam simbol atas kebutuhan primer dalam hubungan pernikahan/percintaan dua insan manusia. Hal tersebut dapat menjadi pembatas atas perasaan cinta mereka. Ajo kawir menghindar hingga ia rindu dan bertemu Iteng. Akhirnya mereka menikah dan Iteung menerima segala kekurangan Ajo Kawir. Dalam tahap ini, cinta adalah menerima kekurangan. Bahkan kekurangan paling mendasar dalam hubungan suami istri.

Beberapa bagian dari novel ini menari dan cukup dewasa oleh sebab itu di bagian belakang novel da tulisan 21+. Namun ini bukan novel stensilan murahan, banyak hal menarik dan muatan-muatan di dalamnya. Salah satu bagian yang saya suka misalnya :

“Kenapa kamu harus mandi malam begini?”

“Aku basah.”

“Aku juga basah.”

“Aku mau tahajud.”

“Demi Tuhan, untuk apa?”

“Siapa tahu dosaku bisa terhapus.” (Halaman 7)

Percakapan itu terjadi ketika mereka menyaksikan adegan intim Pak Kepala Desa dengan istrinya.

Beberapa percakpan pun tak elak dari gelak tawa. Bumbu-bumbu humornya menggelitik sekali. Tak banyak tapi cukup membuat tawa pada beberapa bagian. Misalnya ketika Ajo Kawir berkata bahwa burungnya masuk angin.

Misalnya setelah melalui perjalanan panjang, Ajo Kawir memilih untuk hidup di jalan sunyi seperti burungnya. Dan selalu bertanya ke burungnya ketika ada hal-hal yang perlu diributkan.

Eka Kurniawan membuat elok novel ini dengan plot yang menarik. Sama seperti novel-novel sebelumnya permainan plot Eka membuat saya kagum dan ingin setidak bisa menirunya. Batas-batas perbendaan waktu dan kejadian dalam satu bab pendek-pendek. Hanya beberapa paragraf. Plot seakan melompat-lompat dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s